Jumat, 26 Agustus 2011

Banser NU Amankan Natal

Jumat, 25 Desember 2009 - 09:32 | Kategori: Pernik Merdeka.com - Sekitar 50 anggota Barisan Serbaguna Nahdatul Ulama (Banser NU) disiapkan untuk ikut serta mengamankan Misa Malam Natal di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (24/12).
"Akan tetapi khusus malam ini, ada sekitar 20 orang yang bertugas. Mereka disebar ke delapan gereja di Kota Cilacap," kata Komandan Provost Banser NU Cilacap Yusmanto saat ditemui di depan Gereja Katolik Santo Stephanus Cilacap.
Khusus untuk Gereja Khatolik Santo Stephanus, kata dia, sebanyak lima personel Banser NU bertugas mengamankan Misa Natal bersama TNI/Polri.
Menurut dia, pengamanan iini berkoordinasi dengan Forum Kerukunan Umat Bergama (FKUB) Kabupaten Cilacap.
Sementara itu Koordinator Seksi Keamanan Panitia Natal Gereja Katolik Santo Stephanus, Elvis Umbu Tellu mengatakan, pihaknya sangat terbantu oleh kehadiran personel Banser NU yang turut mengamankan jalannya misa Natal.
"Mereka selalu terlibat dalam pengamanan misa Natal di sini. Kami juga berterima kasih kepada aparat TNI, Polri, dan Satuan Polisi Pamong Praja yang turut membantu pengamanan sehingga kami merasa aman dan nyaman saat melaksanakan misa," katanya.
Secara terpisah, Ketua Panitia Natal Gereja Katolik Santo Stephanus Bambang Murdoko mengatakan, tema khotbah misa Natal gereja adalah "Hari Ini Telah Lahir Bagimu Juru Selamat, Yaitu Kristus, Tuhan", yang disampaikan oleh Romo Carolus Charly OMI.
Ia mengatakan, khotbah tersebut menceritakan tentang kelahiran Yesus sebagai juru selamat umat manusia di dunia.
Dari pantauan, pengamanan di Gereja Katolik Santo Stephanus cukup ketat. Satu per satu jemaat yang hendak mengikuti misa diperiksa barang bawaannya oleh tiga orang polwan berpakaian sipil.
Kendati demikian, pemeriksaan jemaat tersebut tidak menggunakan alat pendeteksi logam. (ant/boo)

Taufick Hidayattulloh : FKUB Akan melakukan penggalangan dukungan untuk keberlangsungan program penyelamatan lingkungan

Tanggal publikasi: 16 April 2009


CILACAP, Jawa Tengah (UCAN) – Seorang pastor meminta para tokoh lintas agama untuk mendukung proyek reboisasinya di “pulau narapidana.” Hampir setengah dari lahan bekas hutan seluas 12.106 hektar di Nusa Kambangan rusak akibat pembalakan liar," kata Pastor Carolus Burrows OMI pada pertemuan lintas agama di Cilacap, sebuah kota di pantai selatan pulau Jawa. Pulau Nusa Kambangan digunakan untuk menampung orang-orang yang dihukum karena kejahatan serius seperti pembunuhan, terorisme, perdagangan narkotik dan korupsi tingkat tinggi.

Pastor Burrows merupakan salah satu dari dua pembicara pada pertemuan 26 Maret yang diadakan oleh Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS), yang dikelola Katolik, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kabupaten Cilacap. Delapan tokoh Buddha, Konghucu, dan Muslim, serta puluhan kaum muda Muslim, menghadiri pertemuan itu.

Pastor Burrows, direktur YSBS, mengatakan 44 petani dari desa Klaces, kecamatan Kampung Laut,  berpartisipasi dalam proyek reboisasi yang ia mulai lima bulan lalu itu. Para petani menanam 150.000 bibit — 100.000 pohon kayu yang bisa dijual dan 50.000 pohon buah — di sebuah lokasi seluas 44 hektar di Nusa Kambangan.

Dalam proyek yang akan berlangsung selama tiga bulan itu, setiap petani diberi uang 1 juta rupiah untuk pembelian bibit dan 2 juta rupiah untuk perawatan pohon-pohon muda. Trocaire, biro pengembangan luar negeri Gereja Katolik di Irlandia, mendanai prakarsa itu.

Menurut Pastor Burrows, proyek itu perlu juga memperhatikan binatang hutan: “Monyet, babi hutan dan yang lainnya butuh makanan. Maka saya menanam pohon-pohon buah untuk makanan mereka.”
Dengan dukungan FKUB kabupaten itu, imam itu berharap 500.000 pohon akan segera ditanam.

Munir Nursaid, pembicara lain pertemuan itu, melihat program reboisasi itu sebagai sebuah bentuk kerja sama lintas agama. Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) cabang kabupaten itu, organisasi Islam terbesar di tanah air, mengajak peserta untuk mendukung proyek itu sebagai sebuah pelayanan terhadap Tuhan.
Seorang tokoh agama Islam lainnya, Mohammad Taufick Hidayattullah, mengatakan FKUB akan mengadakan pertemuan dengan para petani lokal untuk membahas proyeknya Pastor Burrows. Sejumlah petani yang terlibat dalam program itu mengungkapkan rasa kegembiraan mereka terhadap proyek itu.

Arjo, 45, mengatakan ia menanam 2.000 bibit albasia, mahoni, mangga dan rambutan. “Saya akan menjaga tanaman ini hingga panen,” katanya.
Samidun, 36, menjelaskan bahwa penduduk lokal menjaga lahan itu dari illegal logging kapan pun mereka menghadapi masalah ekonomi. “Untuk mengatasi lingkungan harus mulai dengan membangun kesadaran pada manusia” dari illegal logging, katanya, seraya mengatakan perubahan iklim menyebabkan pemanasan global yang berdampak pada para petani setempat, yang membuat mereka sulit untuk menentukan musim untuk menanam.