Tengah asyik –
asyikne menemani si kecil melihat pemotongan hewan qurban di salah satu
mushalla dekat rumah,tiba – tiba hp jadul saya berdering. Satu pesan
masuk,setelah dibuka ternyata dari seorang teman lama, yang kebetulan
juga seorang kompasiner. Dia adalah Moh. Taufick Hidayatulloh, Ketua
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Cilacap Jawa Tengah.
Isi SMS itu sebagai berikkut : “Selamat
Hari Raya Idul Adha… Kiranya menjiwai dalam laku kehidupan untuk rela
berkorban demi keadilan dan perdamian bagi segala maklhluk. (Salam Damai
Sejahtera – Pendeta Yosafat AW beserta segenap Jemaat Geraja Kristen
Jawa Cilacap)”
Belum sempat membalas SMS tersebut, kemudian masuk pesan kedua sebagai berikut : “Terimakasih
atas respon serta balasan ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha dari
Pendeta Yosafat AW. Insya Alloh semua balasan dari Anda akan kami
teruskan kepada Beliau. Salam Damai selalu… Semoga kita mampu mengambil
spirit pengrobanan serta keikhlasan pengabdian dari Ibrahim AS beserta
Ismail AS dalam kehidupan kita sehari – hari. Damailah Indonesiaku,
Bangkitlah Bangsaku…! Lahir Batin Indonesia. Salam.. Moh. Taufick
Hidayatulloh, Ketua FKUB Cilacap”
Setelah saya balas
lalu saya berpikir, mungkin inilah salah atu bentuk toleransi yang
harus kita kebangkan untuk menuju ke-Indonesiaan yang lebih baik. Tapi
mengapa Sang Pendeta berkenan mengirimkan SMS ucapan Selamat Idul Adha
kepada Ummat Islam? Apakah karena dia anggota FKUB sehingga mengirimkan
kepada ketuanya dan berharap untuk bisa diteruskan (SMS berantai) kepada
yang lain? Atau murni karena kesadaran akan pentingnya toleransi?
Saya mencoba
berprasangka baik, dengan membuat simpulan ala sendiri, di mana hal ini
merupakan suatu kewajara, mengingat secara historis ada beberapa hal
yang terkait antara Islam dan Kristen, pertama kedua – duanya adalah agama samawi (agama langit). Kedua, ada
keterkaitan aspek kesejarahan yang lain yang diyakini oleh Sang Pendeta
(mungkin), karena antara Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa AS merupakan
satu keturunan dari Nabi Ibrahim AS, melalui jalur yang berbeda Nabi
Ismail AS dan Nabi Ishaq AS.
Sementara awal
mula dilakukannya ibadah qurban adalah saat Nabi Ibrahim AS beberapa
kali bermimpi diperintah oleh Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi
Ismail AS. Hingga akhirnya, karena ketaatannya kepada Allah SWT, lalu
Nabi Ibrahim menceritakan apa yang dialaminya kepada putranya, dan Sang
Putra Nabi Ismail dengan penuh ketaatan baik kepada orang tua maupun
kepada Allah SWT merelakan dirinya disembelih sesuai perintah yang ada
di dalam Sang Ayah, hingga akhirnya pengurbanan itu diganti dengan
seekor kambing gibas.
Nilai dan hubungan
kesejarahan inilah yang (mungkin) mendasari Sang Pendeta mengirimkan
ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha melalui SMS berantai kepada Ummat
Islam yang tengah merayakannya dengan motivasi sebagai bentuk toleransi
dan untuk meminimalisir terjadinya “persaingan tidak sehat” yang kerap
terjadi di lapangan antar pemeluk kedua agama tersebut, terutama dalam
hal meyakinkan kebenaran aqidah masing – masing dan berebut simpati
untuk mendapatkan pengikut sebanyak – banyaknya.
Terlepas dari itu
semua, jika yang dilakukana oleh Sang Pendeta Yosafat AW juga dilakukan
oleh pendeta – pendeta lain dan para pengikutnya, serta mendapat respon
positif dari Ummat Islam, tidak saling su’udzon antar sesama, cita – cita mewujudkan masyarakat madani Inysa Allah juga akan tercapai, baldatun thayyibatun warabbun ghafuur… Aamiin. Wallahu A’laam.. (Agam; 15 Oktober 2013)
Selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakannya..
Damailah Indonesiaku, Bangkitlah Bangsaku…! Lahir Batin Indonesia, Salam Kompasiana!
ABDUL GHOFFAR AL AMIN, Blogger, Alumni Fakultas Tarbiyah IAIIG Cilacap.
http://sosbud.kompasiana.com/2013/10/15/ucapan-selamat-idul-adha-sang-pendeta-601756.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar