Kamis, 21 Agustus 2014

Ucapan Selamat Idul Adha Sang Pendeta

Tengah asyik – asyikne menemani si kecil melihat pemotongan hewan qurban di salah satu mushalla dekat rumah,tiba – tiba hp jadul saya berdering. Satu pesan masuk,setelah dibuka ternyata dari seorang teman lama, yang kebetulan juga seorang kompasiner. Dia adalah Moh. Taufick Hidayatulloh, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Cilacap Jawa Tengah.
Isi SMS itu sebagai berikkut : “Selamat Hari Raya Idul Adha… Kiranya menjiwai dalam laku kehidupan untuk rela berkorban demi keadilan dan perdamian bagi segala maklhluk. (Salam Damai Sejahtera – Pendeta Yosafat AW beserta segenap Jemaat Geraja Kristen Jawa Cilacap)
Belum sempat membalas SMS tersebut, kemudian masuk pesan kedua sebagai berikut : “Terimakasih atas respon serta balasan ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha dari Pendeta Yosafat AW. Insya Alloh semua balasan dari Anda akan kami teruskan kepada Beliau. Salam Damai selalu… Semoga kita mampu mengambil spirit pengrobanan serta keikhlasan pengabdian dari Ibrahim AS beserta Ismail AS dalam kehidupan kita sehari – hari. Damailah Indonesiaku, Bangkitlah Bangsaku…! Lahir Batin Indonesia. Salam.. Moh. Taufick Hidayatulloh, Ketua FKUB Cilacap
Setelah saya balas lalu saya berpikir, mungkin inilah salah atu bentuk toleransi yang harus kita kebangkan untuk menuju ke-Indonesiaan yang lebih baik. Tapi mengapa Sang Pendeta berkenan mengirimkan SMS ucapan Selamat Idul Adha kepada Ummat Islam? Apakah karena dia anggota FKUB sehingga mengirimkan kepada ketuanya dan berharap untuk bisa diteruskan (SMS berantai) kepada yang lain? Atau murni karena kesadaran akan pentingnya toleransi?
Saya mencoba berprasangka baik, dengan membuat simpulan ala sendiri, di mana hal ini merupakan suatu kewajara, mengingat secara historis ada beberapa hal yang terkait antara Islam dan Kristen, pertama kedua – duanya adalah agama samawi (agama langit). Kedua, ada keterkaitan aspek kesejarahan yang lain yang diyakini oleh Sang Pendeta (mungkin), karena antara Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa AS merupakan satu keturunan dari Nabi Ibrahim AS, melalui jalur yang berbeda Nabi Ismail AS dan Nabi Ishaq AS.
Sementara awal mula dilakukannya ibadah qurban adalah saat Nabi Ibrahim AS beberapa kali bermimpi diperintah oleh Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Hingga akhirnya, karena ketaatannya kepada Allah SWT, lalu Nabi Ibrahim menceritakan apa yang dialaminya kepada putranya, dan Sang Putra Nabi Ismail dengan penuh ketaatan baik kepada orang tua maupun kepada Allah SWT merelakan dirinya disembelih sesuai perintah yang ada di dalam Sang Ayah, hingga akhirnya pengurbanan itu diganti dengan seekor kambing gibas.
Nilai dan hubungan kesejarahan inilah yang (mungkin) mendasari Sang Pendeta mengirimkan ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha melalui SMS berantai kepada Ummat Islam yang tengah merayakannya dengan motivasi sebagai bentuk toleransi dan untuk meminimalisir terjadinya “persaingan tidak sehat” yang kerap terjadi di lapangan antar pemeluk kedua agama tersebut, terutama dalam hal meyakinkan kebenaran aqidah masing – masing dan berebut simpati untuk mendapatkan pengikut sebanyak – banyaknya.
Terlepas dari itu semua, jika yang dilakukana oleh Sang Pendeta Yosafat AW juga dilakukan oleh pendeta – pendeta lain dan para pengikutnya, serta mendapat respon positif dari Ummat Islam, tidak saling su’udzon antar sesama, cita – cita mewujudkan masyarakat madani Inysa Allah juga akan tercapai, baldatun thayyibatun warabbun ghafuur… Aamiin. Wallahu A’laam.. (Agam; 15 Oktober 2013)
Selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakannya..
Damailah Indonesiaku, Bangkitlah Bangsaku…! Lahir Batin Indonesia, Salam Kompasiana!

ABDUL GHOFFAR AL AMIN, Blogger, Alumni Fakultas Tarbiyah IAIIG Cilacap.
http://sosbud.kompasiana.com/2013/10/15/ucapan-selamat-idul-adha-sang-pendeta-601756.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar